Sabtu, 16 November 2013

PENGANTAR PENDIDIKAN Lembaga Pendidikan sebagai Industri Pengetahuan Simultansi Substansi dan Tradisi Intelektual Pendidikan

Nama           : Hastiyanti
Nim              : 10533726413
Kelas            : A

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
            Sasaran pendidikan adalah manusia pendidikan bermaksud membantu peserta didik untuk menumbuhkankembangkan potensi-potensi kemanusiaan. Potensi kemanusiaan merupakan benih kemugkinan untuk menjadi manusia. Ibarat biji mangga bagaimanapun wujudnya jika ditanam dengan baik pasti menhadi pohon mangga dan bukannya menjadi pohon jambu.
Pendidikan merupakan sebuah usaha sadar menanamkan nilai-nilai hidup dan spektrum keterampilan pada peserta didik untuk memenangkan masa depannya. Tujuan utama pendidikan adalah untuk melestarikan dan meningkatkan mutu kehidupan manusia yang beradab (the craddle of civilization) sehingga mampu bertanggung jawab dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Dimana ciri pokok kehidupan adalah perkembangan dan interaksi serta interdepenndensi dalam keragaman. Dengan demikian, pendidikan dimaksudkan untuk menyiapkan peserta didik sehingga mampu dan cakap berkembang dan berinteraksi secara sehat dengan sesama manusia dan alam semesta ini.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana lembaga pendidikan sebagai industri pendidikan ?
2. Bagaimana subtansi dan tradisi intelektual pendidikan ?
BAB II
PEMBAHASAN
1.LEMBAGA PENGETAHUAN SEBAGAI INDUSTRI PENGETAHUAN
A.HAKIKAT INDUSTRI PENGETAHUAN
Pendidikan merupakan agen utama trasnformasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan pun menjadi wahana transformasi sekaligus “pengawet”  pengalaman dan kebudayaan. Ketika modernitas peradaban berskala tinggi, pola kerja berbasis pengalaman atau pengetahuan tradisional tidak sepenuhnya dapat dipertahankan lagi, kecuali pada tempat-tempat dimana tradisionalitas itu memang masih layak hidup karena bernilai sosial, seni, atau ekonomi, tertentu. Cangkul masih layak digunakan untuk menggarap sawah, meski sudah ada traktor. Kerbau masih layak digunakan untuk menarik bajak, meski sudah ada mesin-mesin untuk usaha tani. Banyak hal dari instrument sosial dan ekonomi telah mengalami medernitas sejalan dengan kemajuan dan peradaban. Pendidikan dan persekolahan memainkan peranan penting didalamnya. Industri rumah tangga pun harus mengalami modernitas.
Pada tataran kehidupan dan pekerjaan modern demikian halnya. Lahirlah apa yang disebut dengan industri-industri pengetahuan dan pekerjaan-pekerjaan pengetahuan , dimana pendidikan dan persekolahan menjadi pilarnya. Pada sisi lain telah muncul pula apa yang disebut sebagai indutri  berbasis pengetahuan dan pekerjaan berbasis pengetahuan dimana hal itu dipicu oleh laju peradaban dan rasa ingin tahu manusia. Lembaga pendidikan merupakan wahana paling cocok, setidaknya untuk pembekalan awal bagi anak muda yang ingin memasuki kehidupan baru secara sosial dan ekonomi.
Apa yang dimaksud industri-industri pengetahuan dan pekerjaan pekerjaan pengetahuan itu? Menurut Nachlup (1982) industri-industri pengetahuan dan pekerjaan-pekerjaan pengetahuan merupakan dua istilah yang sulit dipisahkan. Kedua istilah ini cocok untuk menggambarkan sluruh aktivitas ekonomi yang di bentuk dengan tujuan menciptakan, memindahkan, dan menerima pengetahuan. Industry pengetahuan merujuk pada lembaga yang di bentuk sebagai wahana mengumpulkan,
Menciptakan, memindahkan, dan menerima pengetahuan yang langsung atau tidak langsung memiliki nilai ekonomis.
B. LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PEKERJAAN PENGETAHUAN
Lembaga pendidikan  dapat di analogikan dengan industry penggetahuan yang di dalamnya mengintegral pekerjaan pengetahuan. Aktivitas-aktivitas industry pengetahuan dan pekerjaan pengetahuan itu di maksudkan antara lain untuk mempertajam, memperkaya, menjelaskan, menyarankan, menghibur, serta menambah pemahaman manusia akan alam dan fenomena kemasyarakatan.
Menurut Nachlup (1982) ada dua pendekatan analisis dan ekonomi dan kalkulasi versi statistik dari aktivitas industri pekerjaan dan pengetahuan. Pertama pendekatan industry dan industry pengetahuan yang berfokus pada luaran yang dapat dihasilkan oleh seseorang atau sekelompok orang. Jadi pendekatan ini mengacu pada analisis tingkat produktivitas yang dapat dihasilkan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk jenis pekerjaan tertentu dengan satuan waktu yang tertentu pula, termasuk tingkat produktivitas dalam proses produksi pengetahuan. Kedua, pendekatan pemanfaatan yang berfokus pada masukan tenaga kerja per individu yang terlibat dalam produksi pengetahuan. Pendekatan ini merujuk pada karaktristik masukan yang menjadi persyaratan bagi orang-orang yang terlibat didalam produksi pengetahuan. Diluar kerangka itu dikenal pula pendekatan proses atau informasi yang merujuk pada persyaratan-persyaratan proses seperti apa yang dikehendaki dalam produksi pengetahuan.
Ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai perwujudan riel industri dan pekerjaan pengetahuan perlu dimiliki oleh bangsa-bangsa yang bermukin dinegara manapun, terutama pada Negara yang keadaan ekonominya nelangsa karena minus persediaan pengetahuan umum, penguasaan teknologi, termasuk pengetahuan pada sector ekonomi, Negara-negara maju, seperti Amerika serikat, jerman barat, jepang, inggris dan lain-lain tetap merasakan minus pengetahuan umum, penguasaan teknologi, dan pengetahuan ekonomi, meski sesungguhnya mereka jauh lebih baik dibandingkan dengan banyak Negara yang berpendapatan rendah seperti Indonesia, Banglades, india, Pakistan. Pada hal, bangsa-bangsa yang bermukim di Negara-negara maju seperti disebutkan diatas tadi pengetahuan dasar yang mereka miliki jelas lebih luas dan lebih mapan yang bermukim di Negara-negara berkembang dan terbelakang.
Informasi dan pengetahuan merupakan kata benda. Kedua kata ini memiliki akar kata kerja berbeda, yaitu member informasi (to infrom) dan mengetahui (to know). Kata kerja pertama bermakna satu tindakan atau proses dan yang kedua berarti keadaan. Perbedaan ini dapat dditerapkan pada kata benda. Akan tetapi oleh karena bahasa biasanya bersifat tidak selalu definit atau tertentu, kata benda dimaksud dapat juga berarti subjek atau isi informasi dan muatan pengetahuan.
Dunia pendidikan pun banyak mengambil manfaat dari jaringan teknologi informasi seperti internet yang mampu ”menjelajahi” alam maya ini. Kemanfaatan yang sama dirasakan oleh ilmuan yang serinh menjalajahi informasi dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui alam maya secara nyaris tanpa batas. Dengan informasi mutakhir, ilmuawan dan peniliti dapat memperkaya diri  untuk keperluan penulisan naskah akademik, penelitian, bahkan menjual jasa kepada konsumen. Ringkasnya, penguasaan informasi secara menyeluruh tidak hanya  mencerdaskan pemiliknya, melainkan juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
C.LEMBAGA PENDIDIKAN SEBAGAI INDUSTRI PENGETAHUAN
Apa industri pengetahuan itu? Menurut Psacharopoulos (1987) industry pengetahuan dapat diartikan sebagai kelompok perusahaan, institusi, organisasi, depertemen, atau tim dalamnya menghendaki baik secara lensung maupun tidak lansung untuk menyebarkan pengetahuan dalam bentuk apapun. Oleh karena penyediaan informasi tidak dapat dipisahkan dengan selayaknya penyediaan barang atau jasa lain, maka orang-orang yang terlibat dalam industri  pengetahuan menyediakan informasi tidak sebagai pekerjaan yang hanya bagian kecil dari pekerjaan yang lain, melainkan merupakan pekerjaan utama mereka. Pekerja industri pengetahuan tidak hanya menyediakan pengetahuan dan menjual jasa dibidangnya, melainkan juga yang membagikannya Cuma-Cuma karena dibiayai oleh pembayara pajak, penyumbang, atau institusi bisnis.
Tidak semua pekerja yang bekerja pada industri pengetahuan adalah orang-orang  yang berpengatahuan adalah orang-orang yang berpengatahuan. Banyak diantara mereka adalah tenaga teknis atau bekerja semata-mata menggunakan kekuatan otot. Misalnya, lembaga penerbitan, lembaga litbang, sekolah, dan universitas sebagai pengetahuan memperkerjakan tidak hanya penulis, dosen, guru, peniliti, penelaah, reporter, editor, pencetak, dan pengoreksi ntulisan, atau semua yang mengerjakan pekerjaan mental dan intelektual semata. Di dalamnya juga terdapat pekerja lain seperti sopir tetap, pemuat barang kedalam truk, penjaga gudang, penjilid buku, dan banyak yang lainnya, yang pekerjaannya benar-benar manual. Industri ini juga dapat berupa industri jurnal atau buku yang sebenarnya dicetak pada kertas yang diproduksi di pabrik yang memperkerjakan pekerja fisik, menggunakan mesin yang dibuat dari baja, dan tembaga dan pembuat bubur dari kayu yang dipotong oleh penebang pohon.
Oleh karena luaran industri penerbitan didesain untuk memancarkan pengetahuan, satu komponen masukan yang terbesar adalah buruh atau tenaga kerja yang tidak dimanfaatkan lansung dalam kerangka kerja industri pengetahuan itu. Industri pengetahuan ini bisa dikelola dalam kerangka pemerintahan atu yayasan. Industri pembuatan computer dan mesin informasi lainnya mayoritas memperkerjakan pekerjaan manual. Dengan kata lain, untuk diperkerjakan pada industri pengetahuan tidak harus selalu mengubah pekerja manual menjadi pkerja berpengetahuan.
Berbeda dengan industri pengetahuan, pekerjaan pengetahuan dalam makna substansi ,material, menuntut persyaratan khusus. Mereka dalah orang-orang yang ahli di bidangnya, dimana keahlian itu diperoleh melaui pendidikan, pelatihan, atau proses pembelajaran individual yang cukup lama. Kemampuan yang dimiliki oleh seorang yang menjalankan pekerjaan pengetahuan adakalanya tidak cukup tunggal. Seorang penulis, misalnya setidaknya harus memiliki dua kemampuan sekaligus, yaitu penguasaan materi fokus tulisan dan penguasaan bahasa tulisan. Berbekal dua kemampuan itu saja tidak cukup. Mereka juga harus memiliki keterampilan lain, yaitu keterampilan mengoperasikan komputer  untuk olah kata, desain gambar, table, ilustrasi bergambar, desain grafis, dan lain-lain kecuali kalau penulis yang bersangkutan menggunakan jasa pengetikan.
D. PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN
            Pendidikan merupakan wahana sekaligus industri pengetahuan. Sekolah dan lembaga pendidikan formal merupakan bagian dari pabriknya. Keluargapun berperan sebagai wahana transformasi pengetahuan sekaligus sebagai industri pengetahuan itu. Kemampuan kita membedakan antara pengetahuan adalah penting.
            Menurut Nachlup ( 1982 ) tidak ada cara mengukur pengetahuan karena pengetahuan itu berbeda dengan pemahaman. Maksudnya adalah bahwa pengetahuan akan berkembang secara tanpa batas dan aktivitas untuk menyuburkan pengetahuan bersifat tanpa akhir selagi masih ada manusia peradaban. Seseorang bahkan tidak dapat mengatakan bahwa pengetahuan dihasilkan ketika sedikit orang belajar mengetahui hal yang sebelumnya tidak diketahui oleh siapa saja atau ketika banyak orang belajar mengetahui apa yan sudah diketahui orang lain.
            Para ahli lainnya mengajukan klasifikasi pengetahuan yang berbeda. Pembedaan itu kadang-kadang didasari atas dua atau tiga kelas pengetahuan. Contohnya, mereka membedakan secara kontras antara :
1.      Pengetahuan sains dan sejarah
2.      Sains dan seni
3.      Pengetahuan umum dan khusus
4.      Pengetahuan abstrak dan kongkrit
5.      Pengetahuan praktis dan empiris atau pengetahuan instrumental dan
6.      Pengetahuan intelektual dan spiritual
Secara umum pengetahuan dapat dibedakan menjadi lima tipe :
1.      Pengetahuan praktis, yaitu pengetahuan dibidabg professional bisnis, pengetahuan pekerjaan, pengetahuan politik praktis, pekerjaan rumah, dan pengetahuan kependidikan, dan pengetahuan praktis lainnya.
2.      Pengetahuan intelektual yaitu pengetahuan yang berbasis pada kemampuan penalaran, pengembangan sains dan kemanusiaan, pengetahuan yang diperoleh dengan konsentrasi berpikir yang tinggi, atau pengetahuan yang berkaitan dengan apresiasi pada nilai budaya.
3.      Pengetahuan masa lalu, berupa pembicaraan sesaat, memuaskan keiginan, pengetahuan hiburan dan ransangan emosi, gossip, local, cerita, senda gurau, pengetahuan yang diperoleh dengan relaksasi pasif, dan petualangan serius.
4.      Pengetahuan spiritual yaitu pengetahuan berkaitan dengan masalah-masalah ketuhanan atau pembebasan jiwa.
5.      Pengetahuan yang tidak diinginkan yaitu pengetahuan yang kurang menarik bagi seseorang yang kemungkinan didapat dengan tidak sengaja dan dipertahankan tanpa tujuan.
Diluar itu, masih dikenal pula bidang-bidang konsentrasi. Untuk bidang manajemen pendidikan, misalnya ada konsentrasi manejemen pendidikan dasar, manejemen pendidikan menengah, manejemen pendidikan tinggi, kepemimpinan pendidikan, perencanaan pendidikan, supervise pendidikan, dan lain-lain. Sepervisi pendidikan pun memiliki konsentrasi lagi, seperti supervise klinis, supervise pengajaran, supervise kelas, dan lain-lain. Karenanya, untuk melakukan pengakategorian ini memerlukan pertimbangan orang-orang yang benar-benar mengetahui anatomi pengetahuan itu. Dengan menimbang tipe penerimaan dan tipe informasi yang berbeda, seseorang dapat menggunakan kategori pengetahuan diatas untuk mengambarkan bentuk dan isi luaran dari beberapa industri pengetahuan.
Pengetahuan pun terus mengalami perkembangan. Bahkan pengetahuan dan sains selalu menjadi subjek revisi dan perubahan oleh para pengolahnya. Pengetahuan tidak pernah berpura-pura, karena selalu terbuka pada percobaan untuk menemukan kebenaran sejati. Pengetahuan praktis menjadi penting untuk benar atau cukup akurat, yang memungkinkan dijadikan sebagai dasar tindakan seseorang untuk mendapatkan apa yang mereke inginkan.
E.PENDIDIKAN DAN PERMINTAAN PENGETAHUAN
            Babyak Negara, tersedia lembaga khusus yang bertugas melakukan penelitian dan pngembangan. Tugas itu juga diambil oleh perguruan tinggi. Di Indonesia dikenal lembaga ilmu pengetahuan Indonesia (LIPI). Lembaga ini antara lain berfungsi menyimpan, mengembangkan, dan mendistribusikan pengetahuan. Lembaga yang menjalankan fungsi sep[erti itu tidak tunggal. Pada masing-masing departemen ada lembaga penilitian dan pengembangan (Litbang). Di lingkungan perguruan tinggi ada lembaga penilitian (LP) yang menjalankan fungsi yang hamper sama.
            Produksi pengetahuan akan berkembang pesat jika dilakukan format mekanisme pasar. Pada pemerintahan yang otoriter produksi pengetahuan banyak dipandu oleh Negara, sehingga dalam banyak kasus mengalami kendala pertumbuhannya. Memang, sebagian besar dari produksi pengetahuan nasional yang dipandu oleh mekanisme pasar. Kemungkinan hamper semua pengetahuan yang dihasilkan tidak diperoleh oleh konsumen dengan harga tertentu melainkan ditawarkan secara gratis, kecuali yang telah dituangkan kedalam media yang proses memproduksinya memerlukan biaya yang mahal atau dipandu tujuan komersial.
            Institusi yang paling banyak menggunakan produksi pengetahuan adalah universitas dan sekolah. Sebagian besar pendanaanya ditangungg oleh pemerintah, misalnya dalam bentuk pengadaan buku-buku perpustakaan, buku pelajaran, majalah, jurnal, laporan penelitian, artikel lepas, Koran, dan lain-lain. Pada porsi yang lebih riel di lingkungan institusi  pendidikan produksi pengetahuan itu dibayar oleh orang tua dan siswa itu sendiri.
F.JENIS-JENIS INDUSTRI PENGETAHUAN
            Apa saja yang termasuk kedalam jenis-jenis industri pengetahuan itu? Dilihat dari perfektif luaran yang dihasilkan ada enam kelompok industri pengetahuan. Keenam kelompok dimaksud adalah pendidikan, penelitian, dan pengembangan, kreasi seni dan komunikasi, media komunikasi, layanan informasi, dan mesin informasi. Kelompok-kelompok dibagi menjadi cabang-cabang berikut ini :
1. pendidikan
a.       Pendidikan dirumah atau pendidikan dalam keluarga
b.      Pendidikan nonformal atau pendidikan diluar sekolah
c.       Pendidikan pada rumah singgah
d.      Pelatihan structural
e.       Pelatihan fungsional
f.       Pelatihan teknis
g.      Pendidikan di tempat ibadah
h.      Pendidikan di angakatan bersenjata
i.        Sekolah dasar dan menengah
j.        Universitas dan atau institute atau perguruan tinggi pada umumnya
k.      Sekolah-sekolah komersil, kejuruan, dan asrama
l.        Program pemerintahan untuk pendidikan yang tidak termasuk diatas.
2.Penelitian dan pengembangaan
a.       Penelitian dasar
b.      Penilitian terapan pada  umumnya
c.       Penilitian pengembangan
d.      Penilitian kebijakan
3.Kreasi dan komunikasi
a.       Seni sastra, puisi, dan fiksi
b.      Penulisan naskah drama
c.       Musik local atau music tradisional
d.      Instrumental
e.       Simponi
f.       Pertunjukan seni
g.      Seni teater, opera, dansa,
h.      Gambar bergerak dan sinema
i.        Seni visual, seperti gambar, lukisan dan pahataan
j.        Galeri seni
k.      Museum
4.Media komunikasi
a.       Percetakan dan penerbitan unuk buku, leaflet, pamphlet, penerbitan periodic, jurnal ilmiah, majalah, tulisan berita, surat kabar, alat tulisan menulis, suplai kantor, cetakan komersial, foto atau gambar.
b.      Foto iklan dan catatan dari mesin suara
c.       Olaraga tontotan
d.      Media komunikasi elektronik, stasiun regional, stasiun televise lokal perbaikan radio tv, investasi stasiun radio dan tv, periklanan lain.
e.       Komunikasi dengan menggunakan telepon rumah
f.       Telepon selular
g.      Telegraf, layanan pos, konferensi, muktamar, musyawarah kerja.
5.Layanan informasi
a.       Perpustakaan, informasi sains dan teknologi
b.      Layanan professional, layanan medis, layanan hukum, layanan arsitektur dan mesin, akuntansi dan audit
c.       Layanan informasi khusus lainnya
d.      Layanan informasi bisnis
6.Mesin informasi
a.       Mesin cetak, alat music, jaringan internet, CD-ROM
b.      Peralatan dan gambar bergerak
c.       Peralatan telepon dan telegraf
d.      Alat pemberi sinyal
e.       Alat menghitung dan mengendalikan
f.       Mesin tik
g.      Computer elektronik
2. SIMULTANSI SUBTANSI DAN TRADISI INTELEKTUAL PENDIDIKAN
A.KESALAHAN IMPRESI
            Sebagai sebuah institusi sosial yang dibangun dari, oleh, dan untuk masyarakat, lembaga pendidikan persekolahan setidaknya secara hipotik akan selalu mengalami dinamika perkembangan. Perkembangan itu dapat berupa gerakan kearah kemajuan dan dapat pula kearah kemunduran. Ada institusi pendidikan formal, termasuk institusi perguruan tinggi , yang maju pesat dan ada pula yang stagnan, bahkan mati. Fenomena ini Nampak pada beberapa sekolah atau perguruan tinggi swasta. Sebaliknya, cukup banyak tujuan yang ditunjukkan oleh akedemisi perguruan tinggi misalnya dilihat dari karya akademik yang mereka hasilkan.
            Idealnya, perkembangan sekolah dan perguruan tinggi identik dengan sebuah metamorphosis yang kontinyu. Frasa metamorphosis yang kontinyu ini merujuk pada perubahan menuju kemajuan atau kesempurnaan secara terus menerus. Pendidikan formal sepertinya mengkingkari kesejatiannya , oleh karena meski didalam literatul akademik pendidikan formal dikonsepsikan mengembang fungsi konservatif dan progresif secara simultan. Perjalanan sejarahnya membuktikan banhwa baik sekolah maupun universitas hanya sedikit dapat dipengaruhi oleh ide-ide radikal secara cepat. Tampilan lembaga pendidikan formal seperti itu membuat fungsi kedua yang diembannya belum menunjukkan signifikansi geliatnya. Sementara fungsi konservatif lebih menjelma dalam sosok konservatisme pendidikan persekolahan, bukan sebagai wahana pewarisan dan seleksi budaya , ditandai dengan makin terperosoknya kearifan generasi kekinian didalam mewarisi nilai-nilai mulia peradaban masa lampau, setidaknya jika aneka distorsi perilaku kemanusiaan disekitar kita menjadi ukuran. Bukti konservatisme pendidikan formal benar-benar nyata didalam alur perjalanan sejarah. Seperti dikemukakan oleh Ash Hartwel diperlukan waktu sekitar 100 tahun bagi teori-teori dan ide-ide ilmiah untuk dapat mempengaruhi isi, proses, dan struktur persekolahan.
            Bersamaan dengan itu, perubahan wajah dunia terus berakselerasi. Misalnya, pada abad ke-20 telah diproduksi konsep-konsep dan teori-teori yang radikal tentang alam, realitas, dan epistimologi. Merujuk pada kutipan diatas, munculnya teori relativitas, mekanika kuantum, dan penemuan DNa adalah contoh nyata. Memang evolusi perilaku sosial jauh lebih cepat dibandingkan dengan evolusi spesies genetic non rekayasa. Meski kita harus menerima realitas bahwa pendidikan formal belum menampakkan pergeseran fungsi yang signifikan.
B.SIMULTANSI SUBTANSI PENDIDIKAN
            Skema pendidikan yang berkembang di Indonesia, juga dimanca Negara, adalah adanya pemisah secara konseptual mengenai pendidikan akademik dengan pendidikan professional, vokasional, atau kejuruan. Terminologi pendidikan akademik mengandung makna bahwa anak didik atau mahasiswa lebih banyak menerima bekal pengetahuan teorotis ketimbang keterampilan praktikal. Sebaliknya, pendidikan professional bermakna bahwa anak didik atau mahasiswa lebih banyak menerima pengalaman praktikal ketimbang pengetahuan teoritis.
            Muncul pemikiran untuk mengembangkan subtansi program secara terbik yaitu menyiapkan siswa dari sekolah-sekolah apapun juga untuk tidak hanya siap melanjutkan studi, melainkan juga memasuki dunia kerja. Pemikiran ini menuntut institusi pendidikan formal mampu mengkreasi model-model pembelajaran yang mendemonstrasikan bagaiman pembelajaran akademik dapat diterapkan secara praktikal untuk mengembangkan kompetensi memasuki pasar kerja da fleksibilitas.
            Pembelajaran yang dimaksud harus berkaitan dengan pembekalan pengetahuan kontekstual dan keteranpilan praktikal yang memungkinkan siswa melakukan pemecahan masalah dan memiliki keterampilan untuk bekerja. Inisiatif ini meniscayakan adanya kolaborasi antarguru didalam perencanaan kurikulum, kordinasi dalam pembelajaran dan penyertaan dunia bisnis kedalam program-program.
C.PENDIDIKAN DAN KEBEBASAN SISWA
            Dari sekian banyak reformasi sekolah atau reformasi pendidikan pada umumnya, gurulah yang paling menunjang menjadi tumpuan. Guru-guru biasanya sedemikian rupa berusaha mencoba untuk menghindari kewalahan dan kefrustasian akibat pesimisme selama berdebata mengenai reformasi sekolah. Meskipun mereka percaya bahwa pendidikan tidak hanya menjelma kedalam sebuah isolasi, mereka menyadari bahwa upaya menembangkan sekolah dapat menjadi bagian dari perjuangan jangka penjang untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dinegaranya. Guru pun menyakini bahwa siswa harus menjadi bagian dari perjuangan ini dan hal itu merupakan bagian penting dari tugas sebagai guru, yaitu membantu mempersiapkan siswa berpartisipasi sebagai warga yang baik dan aktif dalam masyarakay demokratis.
            Bagi freire, pendidikan adalah proses diskusi kelompok terus menerus yng memungkinkan orsng memperoleh pengetshusn kolektif yang dapat mreka gunakan untuk mengubah masyarakat menurut Shor( 1987 ) peran guru termasuk kerangka mengajukan pertanyaan yang membantu siswa mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi mereka dimasyarakat, bekerja sama denagn siswa untuk menemukan ide-ide atau membuat symbol nyang menjelaskan pengalaman hidup mereka serta analisis yang mendorong pengalaman masyarakat sebagai dasar untuk memahami ajaran baru dan tindakan sosial atau penyadaran.
D. PENDIDIKAN DAN TRADISI INTELEKTUAL
            Pendidikan dimaksydkan untuk mengemgbangkan tradisi nilai intelektual pembelajaran. Salah seorang tokoh yang berpikiran seperti ini adalah John Dewey. Dia memposisikan pendidikan dan dirinya sendiri dalam tradisi intelektual. Dia percaya bahwa gerakan demokrasi pembebasan manusi diperlukan untuk mencapai distribusi kekuasaan politik dan system kebebasan manusi yang adil. Namun demikian, penganut aliran Dewey ini tidak luput dari kritik, kritik telah diajukan atas pemikiran dewey dan para pengikutnya, terutama berkaitan dengan keterbatasan dalam pendidikan khususnya cara mereka yang dipraktikan pada banyak sekolah swasta elit.
            Praktik penyelenggaraan sekolah sering kali mendiskriminasi ras, etnis, dan kondisi ekonomi. Pendidikan sejati haruslah mengembangkan masyarakat dengan mengabaikan spectrum perbedaan manusia dan dampak PENDIDIKAN DAN TRADISI INTELEKTUAL
            Pendidikan dimaksydkan untuk mengemgbangkan tradisi nilai intelektual pembelajaran. Salah seorang tokoh yang berpikiran seperti ini adalah John Dewey. Dia memposisikan pendidikan dan dirinya sendiri dalam tradisi intelektual. Dia percaya bahwa gerakan demokrasi pembebasan manusi diperlukan untuk mencapai distribusi kekuasaan politik dan system kebebasan manusi yang adil. Namun demikian, penganut aliran Dewey ini tidak luput dari kritik, kritik telah diajukan atas pemikiran dewey dan para pengikutnya, terutama berkaitan dengan keterbatasan dalam pendidikan khususnya cara mereka yang dipraktikan pada banyak sekolah swasta elit.
            Praktik penyelenggaraan sekolah sering kali mendiskriminasi ras, etnis, dan kondisi ekonomi. Pendidikan sejati haruslah mengembangkan masyarakat dengan mengabaikan spectrum perbedaan manusia dan dampak berkelanjutan dari sikap itu, khususnya berkaitan dengan ras. Kelas, etnis, gender, konflik sosial, dan kesenjangan lainnya. Praktiknya hubungan guru dan siswa mencapai nilai akademik yang tinggi, guru berperilakuan tidak demokratis dengan cara mempertahankan  tingkat kembali atas kelas. Bagi Poulo Freire, seharusnya para guru menentang dan menghindari ketidakdilan dan pengaturan kekuasaan yang tidak setara dikelas dan di masyrakat.
            Banyak pengamat setuju dengan pemikiran Freire yang sangat prihatin atas tekanan guru atas tekanan guru yang melahirkan ketimpangan sosial dan ketidakberdayaan yang dialami oleh banyak siswa. Tentu saja harus diakui bahwa sangat sulit membayangkan kondisi ruang kelas sekolah menengah, misalnya untuk studi sosial, dimana guru bertangungg jawab melaksanakan konsep pedagogi  penindasan sesuai dengan prinsip-prinsip freire meski begitu, Maxine Greene mendukung ide-ide pedagogis Freire kedalam kelas.
            Greene percaya bahwa untuk menciptakan kelas yang demokratis guru harus belajar mendengarkan suara-suara siswanya. Dengan mendengarkan mungkin guru akan menemukan apa yang siswa pikirkan, apa kekhawatiran mereka, dan apa yang memiliki arti bagi mereka. Ketika guru belajar mendengarkan, adalah mungkin bagi para guru dan siswa untuk bersama mencari dan memaknai seni metefora sejarah yang membuat pengetahuan tentang dunia dapat diakses.
E. BEBERAPA ASUMSI HAKIKI
            Pemikiran tentang manusia dan prilaku kependidikan merupakan dua sisi yang sulit dipisahkan. Dilihat dari sisi pendidikan sebagai wahana transformasi sosial, ada beberapa dimensi yang tegarnit, seperti manusia itu sendiri, siswa, guru, lembaga pendidikan, dan lain-lain. Atas dasar pendidikan itulah diperlukan asumsi-asumsi yang berkenaan dengan hakikat manusia, masyarakat, pendidikan, subjek didik, guru, belajar- mengajar, dan kelembagaan. Berkaitan dengan tim pembaharuan pendidikan ( 1984 ) lebih merumuskan beberapa asumsi hakiki yang berkaitan dengan aspek-aspek diatas.
1. Hakikat Manusia
a.       Manusi sebagai makhluk tuhan mempunyai kebutuhan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa.
b.      Manusia membutuhkan lingkungan hidup berkelompok untuk mengembangkan diri.
c.       Manusia mempunyai potensi-potensi yang dapat dikembangkn dan kebutuhan materi serta spiritual yang harus dipenuhi.
d.      Manusia itu pada dasarnya dapat dan harus dididik serta dapat mendidik disi sendiri.
2. Hakikat Masyarakat
a.       Masyarakat merupakan sumber nilai-nilai yang memberikan arah normative kepada kependidikan.
b.      Kehidupan bermasyarakat ditingkatkan kualitasnya oleh insane yang berhasil mengembangkan dirinya melalui pendidikan.
c.       Kehidupan masyarakat berlandaskan system nilai keagamaan, sosial dan budaya yang dianut warga masyarakat, sebagian dari nilai tersebutr bersifat lestari dan sebagian lagi terus berubah sesuai dengan perkembangan ilmuan teknologi.
3. Hakikat Pendidikan
a.       Pendidikan merupakan proses interksi mnusiawi yang ditandai keseimbangan antra kedaulatan subjek didik dengan kewibawaan pendidik.
b.      Pendidikan merupakan usaha penyiapan subjek didik menghadapi lingkungan yang mengalami perubahan yang semakin pesat.
c.       Pendidikan meningkatkan kualitas kehidupan pribadi dan masyarakat.
4. Hakikat Subjek Didik
a.       Subjek didik bertangungg jawab atas pendidikannya sendiri sesuai dengan wawasan pendidikan seumur hidup.
b.      Subjek didik memiliki potensi, baik fisik maupun psikologis yang berbeda-beda sehingga masing-masing subjek didik merupakan insane yang unik.
c.       Subjek didik merupakan fokus pembinaan individual serta perlakuan yang manusiawi.
5. Hakikat Guru dan Tenaga Kependidikan
a.       Guru dan tenaga kependidikan merupakan agen pembaharuan.
b.      Guru dan tenaga kependidikan berperan sebagai pemimpin dan pendukung nili-nilai masyarakat.
c.       Guru dan tenaga kependidikan bertangungg jawab atas tercapainya hasil belajar subjek didik
d.      Guru dan tenaga kependidikan dituntut untuk menjadi contoh dalam pengelolaan proses belajar mengajar bagi calon guru yang menjadi subjek didiknya
6. Hakikat Belajar Mengajar
a.       Peristiwa belajar mengajar terjadi apabila subjek didik secara aktif  berinteraksi dengan lingkungan belajar yang diatur oleh guru
b.      Proses belajar mengajar yang efektif memerlukan strategi dan media/teknologi pendidikan yang tepat
c.       Program berlajar mengajar dirancang dan diimplikasikan sebagai suatu system.
7. Hakikat Kelembagaan
a.       Lembaga penyedia calon PTK menyelenggarakan program-program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat baik kualitatif maupun kuantitatif.
b.      Lembaga penyedia calon PTK dikelola dalam suatu system pembinaan yang terpadu dalam rangka pengadaan tenaga kependidikan
c.       Lembaga penyedia calon PTK memiliki mekanisme balikan yang efektif untuk meningkatkan kualitas layanannya kepada masyarakat secara terus menerus.
d.      Pendidikan prajabatan guru merupakan tangungg jawab bersama antara lembaga penyedia calon PTK dan sekolh-sekolah pemakai ( calon ) lulusan.

BAB II
PENUTUP

A. Kesimpulan
          Sebagai manusia yang berpendidikan kita di tuntut untuk dapat mengembangkan pengetahuan yang kita miliki, misalnya dalam dunia industri. Tingginya ilmu pengetahuan yang kita miliki akan besar pengaruhnya terhadap suatu pekerjaan yang kita cita-citakan tanpa pendidikan seseorang tidak mungkin melakukan suatu pekerjaan.
            Pendidikan juga harus memerhatikan tentang bagaimana kependidikan itu dengan kebebasan siswa, kesalahan impresi, pendidikan dan tardisi intelektual, dan asumsi hakiki.
B. Saran
            Salah satu masalah besar yang dihadapi sekarang adalah pengangguran banyak sarjana yang pengangguran, oleh karena itu sebaiknya sisten pendidikan di Indonesia diperbaiki agar menghasilkan sarjana-sarjana yang bermutu yang tinggi akan ilmu pengetahuan.

DAFTAR PUSTAKA

Danim, Sudarwan. 2011. Pengantar kependidikan. Bandung: Alfabeta Cv.

Tirtarahardja, Umar. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Pt. Rineka Cipta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar