Nama : Hastiyanti
Nim : 10533726413
Kelas : A
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sasaran
pendidikan adalah manusia pendidikan bermaksud membantu peserta didik untuk
menumbuhkankembangkan potensi-potensi kemanusiaan. Potensi kemanusiaan
merupakan benih kemugkinan untuk menjadi manusia. Ibarat biji mangga
bagaimanapun wujudnya jika ditanam dengan baik pasti menhadi pohon mangga dan
bukannya menjadi pohon jambu.
Pendidikan merupakan sebuah usaha sadar menanamkan nilai-nilai hidup
dan spektrum keterampilan pada peserta didik untuk memenangkan masa depannya.
Tujuan utama pendidikan adalah untuk melestarikan dan meningkatkan mutu
kehidupan manusia yang beradab (the craddle of civilization) sehingga
mampu bertanggung jawab dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Dimana ciri
pokok kehidupan adalah perkembangan dan interaksi serta interdepenndensi
dalam keragaman. Dengan demikian, pendidikan dimaksudkan untuk menyiapkan
peserta didik sehingga mampu dan cakap berkembang dan berinteraksi secara sehat
dengan sesama manusia dan alam semesta ini.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana
lembaga pendidikan sebagai industri pendidikan ?
2. Bagaimana
subtansi dan tradisi intelektual pendidikan ?
BAB II
PEMBAHASAN
1.LEMBAGA
PENGETAHUAN SEBAGAI INDUSTRI PENGETAHUAN
A.HAKIKAT
INDUSTRI PENGETAHUAN
Pendidikan merupakan agen utama trasnformasi ilmu
pengetahuan dan teknologi. Pendidikan pun menjadi wahana transformasi sekaligus
“pengawet” pengalaman dan kebudayaan.
Ketika modernitas peradaban berskala tinggi, pola kerja berbasis pengalaman
atau pengetahuan tradisional tidak sepenuhnya dapat dipertahankan lagi, kecuali
pada tempat-tempat dimana tradisionalitas itu memang masih layak hidup karena
bernilai sosial, seni, atau ekonomi, tertentu. Cangkul masih layak digunakan
untuk menggarap sawah, meski sudah ada traktor. Kerbau masih layak digunakan
untuk menarik bajak, meski sudah ada mesin-mesin untuk usaha tani. Banyak hal
dari instrument sosial dan ekonomi telah mengalami medernitas sejalan dengan
kemajuan dan peradaban. Pendidikan dan persekolahan memainkan peranan penting
didalamnya. Industri rumah tangga pun harus mengalami modernitas.
Pada tataran kehidupan dan pekerjaan modern demikian
halnya. Lahirlah apa yang disebut dengan industri-industri pengetahuan dan
pekerjaan-pekerjaan pengetahuan , dimana pendidikan dan persekolahan menjadi
pilarnya. Pada sisi lain telah muncul pula apa yang disebut sebagai
indutri berbasis pengetahuan dan
pekerjaan berbasis pengetahuan dimana hal itu dipicu oleh laju peradaban dan
rasa ingin tahu manusia. Lembaga pendidikan merupakan wahana paling cocok,
setidaknya untuk pembekalan awal bagi anak muda yang ingin memasuki kehidupan
baru secara sosial dan ekonomi.
Apa yang dimaksud industri-industri pengetahuan dan
pekerjaan pekerjaan pengetahuan itu? Menurut Nachlup (1982) industri-industri pengetahuan
dan pekerjaan-pekerjaan pengetahuan merupakan dua istilah yang sulit
dipisahkan. Kedua istilah ini cocok untuk menggambarkan sluruh aktivitas
ekonomi yang di bentuk dengan tujuan menciptakan, memindahkan, dan menerima
pengetahuan. Industry pengetahuan merujuk pada lembaga yang di bentuk sebagai
wahana mengumpulkan,
Menciptakan, memindahkan, dan menerima pengetahuan
yang langsung atau tidak langsung memiliki nilai ekonomis.
B.
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PEKERJAAN PENGETAHUAN
Lembaga pendidikan
dapat di analogikan dengan industry penggetahuan yang di dalamnya
mengintegral pekerjaan pengetahuan. Aktivitas-aktivitas industry pengetahuan
dan pekerjaan pengetahuan itu di maksudkan antara lain untuk mempertajam,
memperkaya, menjelaskan, menyarankan, menghibur, serta menambah pemahaman
manusia akan alam dan fenomena kemasyarakatan.
Menurut Nachlup (1982) ada dua pendekatan analisis
dan ekonomi dan kalkulasi versi statistik dari aktivitas industri pekerjaan dan
pengetahuan. Pertama pendekatan industry dan industry pengetahuan yang berfokus
pada luaran yang dapat dihasilkan oleh seseorang atau sekelompok orang. Jadi
pendekatan ini mengacu pada analisis tingkat produktivitas yang dapat
dihasilkan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk jenis pekerjaan tertentu
dengan satuan waktu yang tertentu pula, termasuk tingkat produktivitas dalam
proses produksi pengetahuan. Kedua, pendekatan pemanfaatan yang berfokus pada
masukan tenaga kerja per individu yang terlibat dalam produksi pengetahuan.
Pendekatan ini merujuk pada karaktristik masukan yang menjadi persyaratan bagi
orang-orang yang terlibat didalam produksi pengetahuan. Diluar kerangka itu
dikenal pula pendekatan proses atau informasi yang merujuk pada persyaratan-persyaratan
proses seperti apa yang dikehendaki dalam produksi pengetahuan.
Ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai perwujudan
riel industri dan pekerjaan pengetahuan perlu dimiliki oleh bangsa-bangsa yang
bermukin dinegara manapun, terutama pada Negara yang keadaan ekonominya
nelangsa karena minus persediaan pengetahuan umum, penguasaan teknologi,
termasuk pengetahuan pada sector ekonomi, Negara-negara maju, seperti Amerika
serikat, jerman barat, jepang, inggris dan lain-lain tetap merasakan minus pengetahuan
umum, penguasaan teknologi, dan pengetahuan ekonomi, meski sesungguhnya mereka
jauh lebih baik dibandingkan dengan banyak Negara yang berpendapatan rendah
seperti Indonesia, Banglades, india, Pakistan. Pada hal, bangsa-bangsa yang
bermukim di Negara-negara maju seperti disebutkan diatas tadi pengetahuan dasar
yang mereka miliki jelas lebih luas dan lebih mapan yang bermukim di
Negara-negara berkembang dan terbelakang.
Informasi
dan pengetahuan merupakan kata benda. Kedua kata ini memiliki akar kata kerja
berbeda, yaitu member informasi (to infrom) dan mengetahui (to know). Kata
kerja pertama bermakna satu tindakan atau proses dan yang kedua berarti
keadaan. Perbedaan ini dapat dditerapkan pada kata benda. Akan tetapi oleh
karena bahasa biasanya bersifat tidak selalu definit atau tertentu, kata benda
dimaksud dapat juga berarti subjek atau isi informasi dan muatan pengetahuan.
Dunia pendidikan pun banyak mengambil manfaat dari
jaringan teknologi informasi seperti internet yang mampu ”menjelajahi” alam maya
ini. Kemanfaatan yang sama dirasakan oleh ilmuan yang serinh menjalajahi
informasi dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui alam maya
secara nyaris tanpa batas. Dengan informasi mutakhir, ilmuawan dan peniliti
dapat memperkaya diri untuk keperluan
penulisan naskah akademik, penelitian, bahkan menjual jasa kepada konsumen.
Ringkasnya, penguasaan informasi secara menyeluruh tidak hanya mencerdaskan pemiliknya, melainkan juga
memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
C.LEMBAGA
PENDIDIKAN SEBAGAI INDUSTRI PENGETAHUAN
Apa industri pengetahuan itu? Menurut Psacharopoulos (1987) industry
pengetahuan dapat diartikan sebagai kelompok perusahaan, institusi, organisasi,
depertemen, atau tim dalamnya menghendaki baik secara lensung maupun tidak
lansung untuk menyebarkan pengetahuan dalam bentuk apapun. Oleh karena
penyediaan informasi tidak dapat dipisahkan dengan selayaknya penyediaan barang
atau jasa lain, maka orang-orang yang terlibat dalam industri pengetahuan menyediakan informasi tidak
sebagai pekerjaan yang hanya bagian kecil dari pekerjaan yang lain, melainkan
merupakan pekerjaan utama mereka. Pekerja industri pengetahuan tidak hanya
menyediakan pengetahuan dan menjual jasa dibidangnya, melainkan juga yang
membagikannya Cuma-Cuma karena dibiayai oleh pembayara pajak, penyumbang, atau
institusi bisnis.
Tidak semua pekerja yang bekerja pada industri
pengetahuan adalah orang-orang yang
berpengatahuan adalah orang-orang yang berpengatahuan. Banyak diantara mereka
adalah tenaga teknis atau bekerja semata-mata menggunakan kekuatan otot.
Misalnya, lembaga penerbitan, lembaga litbang, sekolah, dan universitas sebagai
pengetahuan memperkerjakan tidak hanya penulis, dosen, guru, peniliti,
penelaah, reporter, editor, pencetak, dan pengoreksi ntulisan, atau semua yang
mengerjakan pekerjaan mental dan intelektual semata. Di dalamnya juga terdapat
pekerja lain seperti sopir tetap, pemuat barang kedalam truk, penjaga gudang,
penjilid buku, dan banyak yang lainnya, yang pekerjaannya benar-benar manual.
Industri ini juga dapat berupa industri jurnal atau buku yang sebenarnya
dicetak pada kertas yang diproduksi di pabrik yang memperkerjakan pekerja
fisik, menggunakan mesin yang dibuat dari baja, dan tembaga dan pembuat bubur
dari kayu yang dipotong oleh penebang pohon.
Oleh karena luaran industri penerbitan didesain
untuk memancarkan pengetahuan, satu komponen masukan yang terbesar adalah buruh
atau tenaga kerja yang tidak dimanfaatkan lansung dalam kerangka kerja industri
pengetahuan itu. Industri pengetahuan ini bisa dikelola dalam kerangka
pemerintahan atu yayasan. Industri pembuatan computer dan mesin informasi lainnya
mayoritas memperkerjakan pekerjaan manual. Dengan kata lain, untuk
diperkerjakan pada industri pengetahuan tidak harus selalu mengubah pekerja
manual menjadi pkerja berpengetahuan.
Berbeda dengan industri pengetahuan, pekerjaan
pengetahuan dalam makna substansi ,material, menuntut persyaratan khusus.
Mereka dalah orang-orang yang ahli di bidangnya, dimana keahlian itu diperoleh
melaui pendidikan, pelatihan, atau proses pembelajaran individual yang cukup
lama. Kemampuan yang dimiliki oleh seorang yang menjalankan pekerjaan
pengetahuan adakalanya tidak cukup tunggal. Seorang penulis, misalnya
setidaknya harus memiliki dua kemampuan sekaligus, yaitu penguasaan materi
fokus tulisan dan penguasaan bahasa tulisan. Berbekal dua kemampuan itu saja
tidak cukup. Mereka juga harus memiliki keterampilan lain, yaitu keterampilan
mengoperasikan komputer untuk olah kata,
desain gambar, table, ilustrasi bergambar, desain grafis, dan lain-lain kecuali
kalau penulis yang bersangkutan menggunakan jasa pengetikan.
D.
PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN
Pendidikan merupakan wahana
sekaligus industri pengetahuan. Sekolah dan lembaga pendidikan formal merupakan
bagian dari pabriknya. Keluargapun berperan sebagai wahana transformasi
pengetahuan sekaligus sebagai industri pengetahuan itu. Kemampuan kita
membedakan antara pengetahuan adalah penting.
Menurut Nachlup ( 1982 ) tidak ada
cara mengukur pengetahuan karena pengetahuan itu berbeda dengan pemahaman.
Maksudnya adalah bahwa pengetahuan akan berkembang secara tanpa batas dan
aktivitas untuk menyuburkan pengetahuan bersifat tanpa akhir selagi masih ada
manusia peradaban. Seseorang bahkan tidak dapat mengatakan bahwa pengetahuan
dihasilkan ketika sedikit orang belajar mengetahui hal yang sebelumnya tidak
diketahui oleh siapa saja atau ketika banyak orang belajar mengetahui apa yan
sudah diketahui orang lain.
Para ahli lainnya mengajukan
klasifikasi pengetahuan yang berbeda. Pembedaan itu kadang-kadang didasari atas
dua atau tiga kelas pengetahuan. Contohnya, mereka membedakan secara kontras
antara :
1. Pengetahuan
sains dan sejarah
2. Sains
dan seni
3. Pengetahuan
umum dan khusus
4. Pengetahuan
abstrak dan kongkrit
5. Pengetahuan
praktis dan empiris atau pengetahuan instrumental dan
6. Pengetahuan
intelektual dan spiritual
Secara
umum pengetahuan dapat dibedakan menjadi lima tipe :
1. Pengetahuan
praktis, yaitu pengetahuan dibidabg professional bisnis, pengetahuan pekerjaan,
pengetahuan politik praktis, pekerjaan rumah, dan pengetahuan kependidikan, dan
pengetahuan praktis lainnya.
2. Pengetahuan
intelektual yaitu pengetahuan yang berbasis pada kemampuan penalaran,
pengembangan sains dan kemanusiaan, pengetahuan yang diperoleh dengan
konsentrasi berpikir yang tinggi, atau pengetahuan yang berkaitan dengan
apresiasi pada nilai budaya.
3. Pengetahuan
masa lalu, berupa pembicaraan sesaat, memuaskan keiginan, pengetahuan hiburan
dan ransangan emosi, gossip, local, cerita, senda gurau, pengetahuan yang
diperoleh dengan relaksasi pasif, dan petualangan serius.
4. Pengetahuan
spiritual yaitu pengetahuan berkaitan dengan masalah-masalah ketuhanan atau
pembebasan jiwa.
5. Pengetahuan
yang tidak diinginkan yaitu pengetahuan yang kurang menarik bagi seseorang yang
kemungkinan didapat dengan tidak sengaja dan dipertahankan tanpa tujuan.
Diluar itu, masih dikenal pula bidang-bidang konsentrasi.
Untuk bidang manajemen pendidikan, misalnya ada konsentrasi manejemen
pendidikan dasar, manejemen pendidikan menengah, manejemen pendidikan tinggi,
kepemimpinan pendidikan, perencanaan pendidikan, supervise pendidikan, dan
lain-lain. Sepervisi pendidikan pun memiliki konsentrasi lagi, seperti
supervise klinis, supervise pengajaran, supervise kelas, dan lain-lain.
Karenanya, untuk melakukan pengakategorian ini memerlukan pertimbangan
orang-orang yang benar-benar mengetahui anatomi pengetahuan itu. Dengan
menimbang tipe penerimaan dan tipe informasi yang berbeda, seseorang dapat
menggunakan kategori pengetahuan diatas untuk mengambarkan bentuk dan isi
luaran dari beberapa industri pengetahuan.
Pengetahuan pun terus mengalami perkembangan. Bahkan
pengetahuan dan sains selalu menjadi subjek revisi dan perubahan oleh para
pengolahnya. Pengetahuan tidak pernah berpura-pura, karena selalu terbuka pada
percobaan untuk menemukan kebenaran sejati. Pengetahuan praktis menjadi penting
untuk benar atau cukup akurat, yang memungkinkan dijadikan sebagai dasar
tindakan seseorang untuk mendapatkan apa yang mereke inginkan.
E.PENDIDIKAN
DAN PERMINTAAN PENGETAHUAN
Babyak Negara, tersedia lembaga
khusus yang bertugas melakukan penelitian dan pngembangan. Tugas itu juga
diambil oleh perguruan tinggi. Di Indonesia dikenal lembaga ilmu pengetahuan
Indonesia (LIPI). Lembaga ini antara lain berfungsi menyimpan, mengembangkan,
dan mendistribusikan pengetahuan. Lembaga yang menjalankan fungsi sep[erti itu
tidak tunggal. Pada masing-masing departemen ada lembaga penilitian dan
pengembangan (Litbang). Di lingkungan perguruan tinggi ada lembaga penilitian
(LP) yang menjalankan fungsi yang hamper sama.
Produksi pengetahuan akan berkembang
pesat jika dilakukan format mekanisme pasar. Pada pemerintahan yang otoriter
produksi pengetahuan banyak dipandu oleh Negara, sehingga dalam banyak kasus
mengalami kendala pertumbuhannya. Memang, sebagian besar dari produksi
pengetahuan nasional yang dipandu oleh mekanisme pasar. Kemungkinan hamper
semua pengetahuan yang dihasilkan tidak diperoleh oleh konsumen dengan harga
tertentu melainkan ditawarkan secara gratis, kecuali yang telah dituangkan
kedalam media yang proses memproduksinya memerlukan biaya yang mahal atau
dipandu tujuan komersial.
Institusi yang paling banyak
menggunakan produksi pengetahuan adalah universitas dan sekolah. Sebagian besar
pendanaanya ditangungg oleh pemerintah, misalnya dalam bentuk pengadaan
buku-buku perpustakaan, buku pelajaran, majalah, jurnal, laporan penelitian,
artikel lepas, Koran, dan lain-lain. Pada porsi yang lebih riel di lingkungan
institusi pendidikan produksi
pengetahuan itu dibayar oleh orang tua dan siswa itu sendiri.
F.JENIS-JENIS
INDUSTRI PENGETAHUAN
Apa saja yang termasuk kedalam
jenis-jenis industri pengetahuan itu? Dilihat dari perfektif luaran yang
dihasilkan ada enam kelompok industri pengetahuan. Keenam kelompok dimaksud
adalah pendidikan, penelitian, dan pengembangan, kreasi seni dan komunikasi,
media komunikasi, layanan informasi, dan mesin informasi. Kelompok-kelompok
dibagi menjadi cabang-cabang berikut ini :
1.
pendidikan
a. Pendidikan
dirumah atau pendidikan dalam keluarga
b. Pendidikan
nonformal atau pendidikan diluar sekolah
c. Pendidikan
pada rumah singgah
d. Pelatihan
structural
e. Pelatihan
fungsional
f. Pelatihan
teknis
g. Pendidikan
di tempat ibadah
h. Pendidikan
di angakatan bersenjata
i.
Sekolah dasar dan
menengah
j.
Universitas dan atau
institute atau perguruan tinggi pada umumnya
k. Sekolah-sekolah
komersil, kejuruan, dan asrama
l.
Program pemerintahan
untuk pendidikan yang tidak termasuk diatas.
2.Penelitian
dan pengembangaan
a. Penelitian
dasar
b. Penilitian
terapan pada umumnya
c. Penilitian
pengembangan
d. Penilitian
kebijakan
3.Kreasi
dan komunikasi
a. Seni
sastra, puisi, dan fiksi
b. Penulisan
naskah drama
c. Musik
local atau music tradisional
d. Instrumental
e. Simponi
f. Pertunjukan
seni
g. Seni
teater, opera, dansa,
h. Gambar
bergerak dan sinema
i.
Seni visual, seperti
gambar, lukisan dan pahataan
j.
Galeri seni
k. Museum
4.Media
komunikasi
a. Percetakan
dan penerbitan unuk buku, leaflet, pamphlet, penerbitan periodic, jurnal
ilmiah, majalah, tulisan berita, surat kabar, alat tulisan menulis, suplai
kantor, cetakan komersial, foto atau gambar.
b. Foto
iklan dan catatan dari mesin suara
c. Olaraga
tontotan
d. Media
komunikasi elektronik, stasiun regional, stasiun televise lokal perbaikan radio
tv, investasi stasiun radio dan tv, periklanan lain.
e. Komunikasi
dengan menggunakan telepon rumah
f. Telepon
selular
g. Telegraf,
layanan pos, konferensi, muktamar, musyawarah kerja.
5.Layanan
informasi
a. Perpustakaan,
informasi sains dan teknologi
b. Layanan
professional, layanan medis, layanan hukum, layanan arsitektur dan mesin,
akuntansi dan audit
c. Layanan
informasi khusus lainnya
d. Layanan
informasi bisnis
6.Mesin
informasi
a. Mesin
cetak, alat music, jaringan internet, CD-ROM
b. Peralatan
dan gambar bergerak
c. Peralatan
telepon dan telegraf
d. Alat
pemberi sinyal
e. Alat
menghitung dan mengendalikan
f. Mesin
tik
g. Computer
elektronik
2. SIMULTANSI SUBTANSI
DAN TRADISI INTELEKTUAL PENDIDIKAN
A.KESALAHAN
IMPRESI
Sebagai sebuah
institusi sosial yang dibangun dari, oleh, dan untuk masyarakat, lembaga
pendidikan persekolahan setidaknya secara hipotik akan selalu mengalami
dinamika perkembangan. Perkembangan itu dapat berupa gerakan kearah kemajuan
dan dapat pula kearah kemunduran. Ada institusi pendidikan formal, termasuk
institusi perguruan tinggi , yang maju pesat dan ada pula yang stagnan, bahkan
mati. Fenomena ini Nampak pada beberapa sekolah atau perguruan tinggi swasta.
Sebaliknya, cukup banyak tujuan yang ditunjukkan oleh akedemisi perguruan
tinggi misalnya dilihat dari karya akademik yang mereka hasilkan.
Idealnya, perkembangan sekolah dan
perguruan tinggi identik dengan sebuah metamorphosis yang kontinyu. Frasa
metamorphosis yang kontinyu ini merujuk pada perubahan menuju kemajuan atau
kesempurnaan secara terus menerus. Pendidikan formal sepertinya mengkingkari
kesejatiannya , oleh karena meski didalam literatul akademik pendidikan formal
dikonsepsikan mengembang fungsi konservatif dan progresif secara simultan.
Perjalanan sejarahnya membuktikan banhwa baik sekolah maupun universitas hanya
sedikit dapat dipengaruhi oleh ide-ide radikal secara cepat. Tampilan lembaga
pendidikan formal seperti itu membuat fungsi kedua yang diembannya belum
menunjukkan signifikansi geliatnya. Sementara fungsi konservatif lebih menjelma
dalam sosok konservatisme pendidikan persekolahan, bukan sebagai wahana
pewarisan dan seleksi budaya , ditandai dengan makin terperosoknya kearifan
generasi kekinian didalam mewarisi nilai-nilai mulia peradaban masa lampau,
setidaknya jika aneka distorsi perilaku kemanusiaan disekitar kita menjadi
ukuran. Bukti konservatisme pendidikan formal benar-benar nyata didalam alur
perjalanan sejarah. Seperti dikemukakan oleh Ash Hartwel diperlukan waktu
sekitar 100 tahun bagi teori-teori dan ide-ide ilmiah untuk dapat mempengaruhi
isi, proses, dan struktur persekolahan.
Bersamaan dengan itu, perubahan
wajah dunia terus berakselerasi. Misalnya, pada abad ke-20 telah diproduksi
konsep-konsep dan teori-teori yang radikal tentang alam, realitas, dan
epistimologi. Merujuk pada kutipan diatas, munculnya teori relativitas,
mekanika kuantum, dan penemuan DNa adalah contoh nyata. Memang evolusi perilaku
sosial jauh lebih cepat dibandingkan dengan evolusi spesies genetic non
rekayasa. Meski kita harus menerima realitas bahwa pendidikan formal belum
menampakkan pergeseran fungsi yang signifikan.
B.SIMULTANSI
SUBTANSI PENDIDIKAN
Skema pendidikan yang berkembang di
Indonesia, juga dimanca Negara, adalah adanya pemisah secara konseptual
mengenai pendidikan akademik dengan pendidikan professional, vokasional, atau
kejuruan. Terminologi pendidikan akademik mengandung makna bahwa anak didik
atau mahasiswa lebih banyak menerima bekal pengetahuan teorotis ketimbang
keterampilan praktikal. Sebaliknya, pendidikan professional bermakna bahwa anak
didik atau mahasiswa lebih banyak menerima pengalaman praktikal ketimbang
pengetahuan teoritis.
Muncul pemikiran untuk mengembangkan
subtansi program secara terbik yaitu menyiapkan siswa dari sekolah-sekolah
apapun juga untuk tidak hanya siap melanjutkan studi, melainkan juga memasuki
dunia kerja. Pemikiran ini menuntut institusi pendidikan formal mampu
mengkreasi model-model pembelajaran yang mendemonstrasikan bagaiman
pembelajaran akademik dapat diterapkan secara praktikal untuk mengembangkan
kompetensi memasuki pasar kerja da fleksibilitas.
Pembelajaran yang dimaksud harus
berkaitan dengan pembekalan pengetahuan kontekstual dan keteranpilan praktikal
yang memungkinkan siswa melakukan pemecahan masalah dan memiliki keterampilan
untuk bekerja. Inisiatif ini meniscayakan adanya kolaborasi antarguru didalam
perencanaan kurikulum, kordinasi dalam pembelajaran dan penyertaan dunia bisnis
kedalam program-program.
C.PENDIDIKAN
DAN KEBEBASAN SISWA
Dari sekian banyak reformasi sekolah
atau reformasi pendidikan pada umumnya, gurulah yang paling menunjang menjadi
tumpuan. Guru-guru biasanya sedemikian rupa berusaha mencoba untuk menghindari
kewalahan dan kefrustasian akibat pesimisme selama berdebata mengenai reformasi
sekolah. Meskipun mereka percaya bahwa pendidikan tidak hanya menjelma kedalam
sebuah isolasi, mereka menyadari bahwa upaya menembangkan sekolah dapat menjadi
bagian dari perjuangan jangka penjang untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil
dinegaranya. Guru pun menyakini bahwa siswa harus menjadi bagian dari
perjuangan ini dan hal itu merupakan bagian penting dari tugas sebagai guru,
yaitu membantu mempersiapkan siswa berpartisipasi sebagai warga yang baik dan
aktif dalam masyarakay demokratis.
Bagi freire, pendidikan adalah
proses diskusi kelompok terus menerus yng memungkinkan orsng memperoleh
pengetshusn kolektif yang dapat mreka gunakan untuk mengubah masyarakat menurut
Shor( 1987 ) peran guru termasuk kerangka mengajukan pertanyaan yang membantu
siswa mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi mereka dimasyarakat, bekerja
sama denagn siswa untuk menemukan ide-ide atau membuat symbol nyang menjelaskan
pengalaman hidup mereka serta analisis yang mendorong pengalaman masyarakat
sebagai dasar untuk memahami ajaran baru dan tindakan sosial atau penyadaran.
D.
PENDIDIKAN DAN TRADISI INTELEKTUAL
Pendidikan dimaksydkan untuk
mengemgbangkan tradisi nilai intelektual pembelajaran. Salah seorang tokoh yang
berpikiran seperti ini adalah John Dewey. Dia memposisikan pendidikan dan
dirinya sendiri dalam tradisi intelektual. Dia percaya bahwa gerakan demokrasi
pembebasan manusi diperlukan untuk mencapai distribusi kekuasaan politik dan
system kebebasan manusi yang adil. Namun demikian, penganut aliran Dewey ini
tidak luput dari kritik, kritik telah diajukan atas pemikiran dewey dan para
pengikutnya, terutama berkaitan dengan keterbatasan dalam pendidikan khususnya
cara mereka yang dipraktikan pada banyak sekolah swasta elit.
Praktik penyelenggaraan sekolah
sering kali mendiskriminasi ras, etnis, dan kondisi ekonomi. Pendidikan sejati
haruslah mengembangkan masyarakat dengan mengabaikan spectrum perbedaan manusia
dan dampak PENDIDIKAN DAN TRADISI INTELEKTUAL
Pendidikan dimaksydkan untuk
mengemgbangkan tradisi nilai intelektual pembelajaran. Salah seorang tokoh yang
berpikiran seperti ini adalah John Dewey. Dia memposisikan pendidikan dan
dirinya sendiri dalam tradisi intelektual. Dia percaya bahwa gerakan demokrasi
pembebasan manusi diperlukan untuk mencapai distribusi kekuasaan politik dan
system kebebasan manusi yang adil. Namun demikian, penganut aliran Dewey ini
tidak luput dari kritik, kritik telah diajukan atas pemikiran dewey dan para
pengikutnya, terutama berkaitan dengan keterbatasan dalam pendidikan khususnya
cara mereka yang dipraktikan pada banyak sekolah swasta elit.
Praktik penyelenggaraan sekolah
sering kali mendiskriminasi ras, etnis, dan kondisi ekonomi. Pendidikan sejati
haruslah mengembangkan masyarakat dengan mengabaikan spectrum perbedaan manusia
dan dampak berkelanjutan dari sikap itu, khususnya berkaitan dengan ras. Kelas,
etnis, gender, konflik sosial, dan kesenjangan lainnya. Praktiknya hubungan
guru dan siswa mencapai nilai akademik yang tinggi, guru berperilakuan tidak
demokratis dengan cara mempertahankan
tingkat kembali atas kelas. Bagi Poulo Freire, seharusnya para guru
menentang dan menghindari ketidakdilan dan pengaturan kekuasaan yang tidak
setara dikelas dan di masyrakat.
Banyak pengamat setuju dengan
pemikiran Freire yang sangat prihatin atas tekanan guru atas tekanan guru yang
melahirkan ketimpangan sosial dan ketidakberdayaan yang dialami oleh banyak
siswa. Tentu saja harus diakui bahwa sangat sulit membayangkan kondisi ruang
kelas sekolah menengah, misalnya untuk studi sosial, dimana guru bertangungg
jawab melaksanakan konsep pedagogi
penindasan sesuai dengan prinsip-prinsip freire meski begitu, Maxine
Greene mendukung ide-ide pedagogis Freire kedalam kelas.
Greene percaya bahwa untuk
menciptakan kelas yang demokratis guru harus belajar mendengarkan suara-suara
siswanya. Dengan mendengarkan mungkin guru akan menemukan apa yang siswa
pikirkan, apa kekhawatiran mereka, dan apa yang memiliki arti bagi mereka.
Ketika guru belajar mendengarkan, adalah mungkin bagi para guru dan siswa untuk
bersama mencari dan memaknai seni metefora sejarah yang membuat pengetahuan
tentang dunia dapat diakses.
E.
BEBERAPA ASUMSI HAKIKI
Pemikiran tentang manusia dan
prilaku kependidikan merupakan dua sisi yang sulit dipisahkan. Dilihat dari
sisi pendidikan sebagai wahana transformasi sosial, ada beberapa dimensi yang
tegarnit, seperti manusia itu sendiri, siswa, guru, lembaga pendidikan, dan
lain-lain. Atas dasar pendidikan itulah diperlukan asumsi-asumsi yang berkenaan
dengan hakikat manusia, masyarakat, pendidikan, subjek didik, guru, belajar-
mengajar, dan kelembagaan. Berkaitan dengan tim pembaharuan pendidikan ( 1984 )
lebih merumuskan beberapa asumsi hakiki yang berkaitan dengan aspek-aspek
diatas.
1.
Hakikat Manusia
a. Manusi
sebagai makhluk tuhan mempunyai kebutuhan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa.
b. Manusia
membutuhkan lingkungan hidup berkelompok untuk mengembangkan diri.
c. Manusia
mempunyai potensi-potensi yang dapat dikembangkn dan kebutuhan materi serta
spiritual yang harus dipenuhi.
d. Manusia
itu pada dasarnya dapat dan harus dididik serta dapat mendidik disi sendiri.
2.
Hakikat Masyarakat
a. Masyarakat
merupakan sumber nilai-nilai yang memberikan arah normative kepada
kependidikan.
b. Kehidupan
bermasyarakat ditingkatkan kualitasnya oleh insane yang berhasil mengembangkan
dirinya melalui pendidikan.
c. Kehidupan
masyarakat berlandaskan system nilai keagamaan, sosial dan budaya yang dianut
warga masyarakat, sebagian dari nilai tersebutr bersifat lestari dan sebagian
lagi terus berubah sesuai dengan perkembangan ilmuan teknologi.
3.
Hakikat Pendidikan
a. Pendidikan
merupakan proses interksi mnusiawi yang ditandai keseimbangan antra kedaulatan
subjek didik dengan kewibawaan pendidik.
b. Pendidikan
merupakan usaha penyiapan subjek didik menghadapi lingkungan yang mengalami
perubahan yang semakin pesat.
c. Pendidikan
meningkatkan kualitas kehidupan pribadi dan masyarakat.
4.
Hakikat Subjek Didik
a. Subjek
didik bertangungg jawab atas pendidikannya sendiri sesuai dengan wawasan
pendidikan seumur hidup.
b. Subjek
didik memiliki potensi, baik fisik maupun psikologis yang berbeda-beda sehingga
masing-masing subjek didik merupakan insane yang unik.
c. Subjek
didik merupakan fokus pembinaan individual serta perlakuan yang manusiawi.
5.
Hakikat Guru dan Tenaga Kependidikan
a. Guru
dan tenaga kependidikan merupakan agen pembaharuan.
b. Guru
dan tenaga kependidikan berperan sebagai pemimpin dan pendukung nili-nilai
masyarakat.
c. Guru
dan tenaga kependidikan bertangungg jawab atas tercapainya hasil belajar subjek
didik
d. Guru
dan tenaga kependidikan dituntut untuk menjadi contoh dalam pengelolaan proses
belajar mengajar bagi calon guru yang menjadi subjek didiknya
6.
Hakikat Belajar Mengajar
a. Peristiwa
belajar mengajar terjadi apabila subjek didik secara aktif berinteraksi dengan lingkungan belajar yang
diatur oleh guru
b. Proses
belajar mengajar yang efektif memerlukan strategi dan media/teknologi pendidikan
yang tepat
c. Program
berlajar mengajar dirancang dan diimplikasikan sebagai suatu system.
7.
Hakikat Kelembagaan
a. Lembaga
penyedia calon PTK menyelenggarakan program-program yang relevan dengan
kebutuhan masyarakat baik kualitatif maupun kuantitatif.
b. Lembaga
penyedia calon PTK dikelola dalam suatu system pembinaan yang terpadu dalam
rangka pengadaan tenaga kependidikan
c. Lembaga
penyedia calon PTK memiliki mekanisme balikan yang efektif untuk meningkatkan
kualitas layanannya kepada masyarakat secara terus menerus.
d. Pendidikan
prajabatan guru merupakan tangungg jawab bersama antara lembaga penyedia calon
PTK dan sekolh-sekolah pemakai ( calon ) lulusan.
BAB
II
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sebagai
manusia yang berpendidikan kita di tuntut untuk dapat mengembangkan pengetahuan
yang kita miliki, misalnya dalam dunia industri. Tingginya ilmu pengetahuan
yang kita miliki akan besar pengaruhnya terhadap suatu pekerjaan yang kita
cita-citakan tanpa pendidikan seseorang tidak mungkin melakukan suatu pekerjaan.
Pendidikan juga harus memerhatikan
tentang bagaimana kependidikan itu dengan kebebasan siswa, kesalahan impresi,
pendidikan dan tardisi intelektual, dan asumsi hakiki.
B. Saran
Salah
satu masalah besar yang dihadapi sekarang adalah pengangguran banyak sarjana
yang pengangguran, oleh karena itu sebaiknya sisten pendidikan di Indonesia
diperbaiki agar menghasilkan sarjana-sarjana yang bermutu yang tinggi akan ilmu
pengetahuan.
DAFTAR PUSTAKA
Danim, Sudarwan.
2011. Pengantar kependidikan. Bandung:
Alfabeta Cv.
Tirtarahardja,
Umar. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta:
Pt. Rineka Cipta.