NAMA : HASTIYANTI
KELAS : A
JURUSAN : PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
PENGANTAR PENDIDIKAN
DEFINISI,METAFORA,DAN KONSEP DASAR
KEPENDIDIKAN
1.
Pendidikan setua dan
seakhir peradaban
Sebagai
esensi, pendidikan secara universal telah berjalan setua peradaban dan
keberadaan manusia di muka bumi ini, apapun substansi dan bagaimanapun
praksisnya. Pendidikan telah ada sejak Adam
dan Hawa muncul di permukaan bumi, bahkan ketika mereka masih di surga.
Bukanlah “Hukuman” yang di terima oleh Adam dan Hawa ketika di surga, yang
menyebabkan mereka menjadi penghuni bumi ini, merupakan satu bentuk pendidikan
sejati ? Bahwa setiap pelanggaran akan menerima sanksi, seperti halnya sanksi
yang di berikan kepada siswa yang melanggar aturan sekolah di sekolah moderen
saat ini.
Metamorfosis
pendidikan terus berlangsung hingga sekarang dan akan terus berlanjut sampai
akhir zaman, dengan tidak akan menemukan sosok yang final. Pendidikan merupakan
gejala kehidupan setua dan seakhir peradaban manusia.
2.
Definisi kehidupan
Pendidikan
adalah proses pemartabatan manusia menuju puncak optimasi potensi kognitif, afektif
dan psikomotorik yang di milkinya. Pendidikan adalah proses membimbing, melatih,
dan memandu manusia terhindar atau keluar dari kebodohan dan pembodohan.
Istilah
pendidikan berasal dari bahasa latin “e-ducere” atau “educare” yang berarti”
untuk memimpin atau memandu keluar”.
Menurut
JOHN DEWEY, pendidikan adalah suatu proses pembaruan pengalaman. Proses itu
bisa terjadi di dalam pergaulan biasa atau pergaulan orang dewasa dengan anak-anak , yang terjadi secara sengaja dan
di lembagakan untuk menghasilkan kesinambungan sosial. Proses ini melibatkan
pengandalian dan pengembangan bagi orang yang belum dewasa dan kelompok dimana
dia hidup.
Pendidikan
pada intinya merupakan proses penyiapan subjek didik menuju manusia masa depan
yang bertanggung jawab. Kata”bertanggung jawab” mengandung makna, bahwa subjek
didik di persiapkan untuk menjadi manusia yang berani berbuat dan berani pula
bertanggung jawab atas perbuatannya.
3.
Metafora dan Makna
Pendidikan
Ada
dua masalah dengan definisi pendidikan. Pertama , definisi pendidikan
menggunakan metafora transmisi pengetahuan terlalu sering di anggap benar
secara harfiah. Informasi, pengetahuan keterampilan dan sikap merupakan
istilah-istilah yang sangat akrab di bidang pendidikan, bukan unit literal. Dalam
pendidikan kita berhadapan dengan alam dan seluruh bidang dari kedua fenomena
duniawi dan narasi unik manusia yang tidak selalu memiliki keberadaan fisik
secara harfiah. Sebagian dari fenomena
kependidikan bersifat kompleks yang sama sekali tidak bisa di mengerti oleh
pikiran, tanpa menjelaskannya dengan metafora.Metafora
menggambarkan atau menjelaskan sesuatu dengan sosok yang lain.
Pendidikan
adalah peradaban dan pemberadaban manusia.Tetapi, pendidikan formal selalu
mengalami tekanan dan nyaris selalu tertinggal dengan kemajuan peradaban.
Kebodohan merupakan akal bakal utama bencana kemanusiaan. Cikal bakal kebodohan
adalah kemalasan dalam belajar dan ketidaktahuan akan makna sejati pendidikan.
Pendidikan berawal dari perilaku dan tindakan pertama, namun tiada kata akhir
untuk menjadi berpendidikan dan menggapai keterpelajaran.
4.
Menjadi Manusia
Berpendidikan
Manusia
yang berpendidikan adalah mereka yang mampu memahami fenomena secara akurat,
berfikir jernih, dan bertindak secara efektif sesuai dengan tujuan aspirasi yang di tetapkan oleh dirinya.
Orang yang berpendidikan juga menghargai orang lain terlepas dari kekuasaan atau situasinya,
bertanggung jawab atas hasil atau dampak tindakan dan menggunakan akal sehat
untuk memenuhi apa yang mereka butuhkan, baik peribadi, keluarga, organisasi
maupun masyarakat pada umumnya. Orang yang berpendidikan membutuhkan informasi,
namun ia tidak tergantung semata pada pada informasi yang telah di simpan di
kepalanya. Mereka memiliki kemampuan
mencari informasi, menciptakan pengetahuan dan mengembakan keterampilan bila di
perlukan.
Nilai-nilai
inti yang terpenting dalam endepinisikan pendidikan adalah menyediakan lingkungan
yang aman dan melakukan pemberdayaan bagi anak didik, sehingga mereka
berpeluang memenuhi kebutuhan dalam makna ideal.
5.
Empat Dimens
Ada empat dimensi yang harus di penuhi untuk
menjadi berpendidikan, yaitu:
a) Agen
pembelajaran
Agen pembelanjaran
siswa biasanya mengintegrasi dengan peran yang di tampilkan oleh sekolah
b) Katalis
belajar
Katalis belajar adalah
seseorang atau sesuatu yang bergerak dalam hubungan mendalam dengan dan
berusaha memahami bagaimana katalis cocok menjadi agen.
c) konteks
pembelajaran
Konteks pembelajaran adalah
segala sesuatu yang lain di sekitar dunia pelajar dan katalis yang mempengaruhi hubungan mereka.
d) cita-cita
yang terbangun dari hasil pembelajaran
Materi pembelajaran
harus membangkitkan obsesi anak untuk menjalani kehidupan di masyarakat atau melanjutkan studi pada jenjang yang lebih
tinggi adalah hal yang naif, kalau materi pembelajaran tidak memberikan
inspirasi apapun bagi siswa, apalagi hanya menimbulkan frustasi pada diri mereka.
6.
Objek pendidikan
Objek
pendidikan terdiri dari objek formal dan objek material. Objek formal ilmu
pendidikan adalah semua gejala insani, berupa proses atau situasi pendidikan
yang menunjukkan keadaan nyata yang di lakukan atau di alami, serta harus di
pahami oleh manusia.
Objek
material ilmu pendidikan adalah manusia itu sendiri. Pemikiran ilmiah tentang
pendidikan, berkaitan dengan objek pendidikan itu sendiri. Hal ini berkaitan
dengan proses atau situasi pendidikan yang tersusun secara kritis, metodis, dan
sistemati.
Manusia adalah animal educandum, manusia yang
memungkinkan di didik hingga mencapai
taraf berpendidikan. Dalam bahasa
yang lebih santun, di sebutkan bahwa manusia adalah homo educandom, di mana
manusia memiliki daya yang kuat untuk di didik agar potensinya dapat
berkembang. Manusiapun di gelar homo cabile, di mana ia memiliki kemampuan
mendidik manusia lain.
Pengarang:
Prof.Dr.Sudarwan Danim