Minggu, 20 Oktober 2013

NAMA            : HASTIYANTI
KELAS           : A
JURUSAN      : PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
PENGANTAR PENDIDIKAN
            DEFINISI,METAFORA,DAN KONSEP DASAR KEPENDIDIKAN
1.      Pendidikan setua dan seakhir peradaban
Sebagai esensi, pendidikan secara universal telah berjalan setua peradaban dan keberadaan manusia di muka bumi ini, apapun substansi dan bagaimanapun praksisnya. Pendidikan telah  ada sejak Adam dan Hawa muncul di permukaan bumi, bahkan ketika mereka masih di surga. Bukanlah “Hukuman” yang di terima oleh Adam dan Hawa ketika di surga, yang menyebabkan mereka menjadi penghuni bumi ini, merupakan satu bentuk pendidikan sejati ? Bahwa setiap pelanggaran akan menerima sanksi, seperti halnya sanksi yang di berikan kepada siswa yang melanggar aturan sekolah di sekolah moderen saat ini.
Metamorfosis pendidikan terus berlangsung hingga sekarang dan akan terus berlanjut sampai akhir zaman, dengan tidak akan menemukan sosok yang final. Pendidikan merupakan gejala kehidupan setua dan seakhir peradaban manusia.
2.      Definisi kehidupan
Pendidikan adalah proses pemartabatan manusia   menuju puncak optimasi potensi kognitif, afektif dan psikomotorik yang di milkinya. Pendidikan adalah proses membimbing, melatih, dan memandu manusia terhindar atau keluar dari kebodohan dan pembodohan.
Istilah pendidikan berasal dari bahasa latin “e-ducere” atau “educare” yang berarti” untuk memimpin atau memandu keluar”.
Menurut JOHN DEWEY, pendidikan adalah suatu proses pembaruan pengalaman. Proses itu bisa terjadi di dalam pergaulan biasa atau pergaulan orang dewasa dengan  anak-anak , yang terjadi secara sengaja dan di lembagakan untuk menghasilkan kesinambungan sosial. Proses ini melibatkan pengandalian dan pengembangan bagi orang yang belum dewasa dan kelompok dimana dia hidup.
Pendidikan pada intinya merupakan proses penyiapan subjek didik menuju manusia masa depan yang bertanggung jawab. Kata”bertanggung jawab” mengandung makna, bahwa subjek didik di persiapkan untuk menjadi manusia yang berani berbuat dan berani pula bertanggung jawab atas perbuatannya.
3.      Metafora dan Makna Pendidikan
Ada dua masalah dengan definisi pendidikan. Pertama , definisi pendidikan menggunakan metafora transmisi pengetahuan terlalu sering di anggap benar secara harfiah. Informasi, pengetahuan keterampilan dan sikap merupakan istilah-istilah yang sangat akrab di bidang pendidikan, bukan unit literal. Dalam pendidikan kita berhadapan dengan alam dan seluruh bidang dari kedua fenomena duniawi dan narasi unik manusia yang tidak selalu memiliki keberadaan fisik secara harfiah.  Sebagian dari fenomena kependidikan bersifat kompleks yang sama sekali tidak bisa di mengerti oleh pikiran, tanpa menjelaskannya  dengan metafora.Metafora menggambarkan atau menjelaskan sesuatu dengan sosok yang lain.
Pendidikan adalah peradaban dan pemberadaban manusia.Tetapi, pendidikan formal selalu mengalami tekanan dan nyaris selalu tertinggal dengan kemajuan peradaban. Kebodohan merupakan akal bakal utama bencana kemanusiaan. Cikal bakal kebodohan adalah kemalasan dalam belajar dan ketidaktahuan akan makna sejati pendidikan. Pendidikan berawal dari perilaku dan tindakan pertama, namun tiada kata akhir untuk menjadi berpendidikan dan menggapai keterpelajaran.
4.      Menjadi Manusia Berpendidikan
Manusia yang berpendidikan adalah mereka yang mampu memahami fenomena secara akurat, berfikir jernih, dan bertindak secara efektif sesuai dengan  tujuan aspirasi yang di tetapkan oleh dirinya. Orang yang berpendidikan juga menghargai orang lain  terlepas dari kekuasaan atau situasinya, bertanggung jawab atas hasil atau dampak tindakan dan menggunakan akal sehat untuk memenuhi apa yang mereka butuhkan, baik peribadi, keluarga, organisasi maupun masyarakat pada umumnya. Orang yang berpendidikan membutuhkan informasi, namun ia tidak tergantung semata pada pada informasi yang telah di simpan di kepalanya. Mereka memiliki  kemampuan mencari informasi, menciptakan pengetahuan dan mengembakan keterampilan bila di perlukan.
Nilai-nilai inti yang terpenting dalam endepinisikan pendidikan adalah menyediakan lingkungan yang aman dan melakukan pemberdayaan bagi anak didik, sehingga mereka berpeluang memenuhi kebutuhan dalam makna ideal.
5.      Empat Dimens
 Ada empat dimensi yang harus di penuhi untuk menjadi berpendidikan, yaitu:
a)      Agen pembelajaran
Agen pembelanjaran siswa biasanya mengintegrasi dengan peran yang di tampilkan oleh sekolah
b)      Katalis belajar
Katalis belajar adalah seseorang atau sesuatu yang bergerak dalam hubungan mendalam dengan dan berusaha memahami bagaimana katalis cocok menjadi agen.
c)      konteks pembelajaran
Konteks pembelajaran adalah segala sesuatu yang lain di sekitar dunia pelajar dan  katalis yang mempengaruhi hubungan mereka.
d)     cita-cita yang terbangun dari hasil pembelajaran
Materi pembelajaran harus membangkitkan obsesi anak untuk menjalani kehidupan di masyarakat  atau melanjutkan studi pada jenjang yang lebih tinggi adalah hal yang naif, kalau materi pembelajaran tidak memberikan inspirasi apapun bagi siswa, apalagi hanya menimbulkan frustasi  pada diri mereka.
6.      Objek pendidikan
Objek pendidikan terdiri dari objek formal dan objek material. Objek formal ilmu pendidikan adalah semua gejala insani, berupa proses atau situasi pendidikan yang menunjukkan keadaan nyata yang di lakukan atau di alami, serta harus di pahami oleh manusia.
Objek material ilmu pendidikan adalah manusia itu sendiri. Pemikiran ilmiah tentang pendidikan, berkaitan dengan objek pendidikan itu sendiri. Hal ini berkaitan dengan proses atau situasi pendidikan yang tersusun secara kritis, metodis, dan sistemati.
 Manusia adalah animal educandum, manusia yang memungkinkan di didik hingga mencapai  taraf  berpendidikan. Dalam bahasa yang lebih santun, di sebutkan bahwa manusia adalah homo educandom, di mana manusia memiliki daya yang kuat untuk di didik agar potensinya dapat berkembang. Manusiapun di gelar homo cabile, di mana ia memiliki kemampuan mendidik manusia lain.
Pengarang: Prof.Dr.Sudarwan Danim




Tidak ada komentar:

Posting Komentar